Diam
*percakapan via telepon video*
"aku hanya ingin melepas penat, dan bersama kawanku rasanya itu membantu.
dengan beban yang kubawa sejak beberapa waktu terakhir,
dengan kau yang tidak juga disini, dengan temu yang tak kunjung mampir,
semuanya terasa begitu berat. memuakkan.
kepalaku terasa seperti pasar malam, penuh, sesak, dan riuh.
kau tau? terkadang kau bisa menjadi begitu menyebalkan ketika marah,
hanya karena aku ingin pergi dengan mereka.
bagiku mendengar suaramu melalui telepon saja itu tidak cukup.
rasanya selalu ada yang kurang. dan setiap kali itu terulang, aku merasa kau kekang"
-----
aku memilih diam.
mendengarkan setiap kata, yang aku tau cepat atau lambat, pada akhirnya akan kau sampaikan.
mencoba menerima semua yang menurutmu kenyataan,
mengabaikan bahwa aku tidak jarang kau kecewakan.
aku memilih diam.
tidak mengelak tiap kesah darimu yang mengeluh,
menyadarkan diriku jangan sampai aku berharap telalu jauh.
bahwasannya, jika sampai itu terjadi, entah tabah milik siapa yang lagi-lagi akan mati.
aku masih memilih diam.
sampai..
-----
"hey, ada apa lagi? apa yang kau pikirkan? kenapa diam saja?"
-----
lalu aku memilih untuk tetap diam.
melempar senyum padamu yang ada diseberang layar telepon,
mencoba meyakinkanmu bahwa aku baik-baik saja.
tapi kau sudah terlanjur khatam tentang segala sudut wajahku.
-----
"kenapa ekspresinya berubah? apa aku salah bicara lagi?
ada hal yang kubilang membuatmu tersinggung?"
-----
menurutmu, bagaimana?
-----
lalu aku memilih untuk tetap diam.
melempar senyum padamu yang ada diseberang layar telepon,
mencoba meyakinkanmu bahwa aku baik-baik saja.
tapi kau sudah terlanjur khatam tentang segala sudut wajahku.
-----
"kenapa ekspresinya berubah? apa aku salah bicara lagi?
ada hal yang kubilang membuatmu tersinggung?"
-----
menurutmu, bagaimana?
maa syaa Allah.. sangat bersemangat aku membaca setiap sajak darimu, dikarenakan berharap menunggu kabar baikmu.
BalasHapussejenak akupun menyadari, bahwa engkau sering dibuat sedih oleh cinta, padahal seharusnya cinta itu yang membahagiakan kita, manusia.
bukanlah aku orang bijak, hanya orang yang sempat mengenalmu. dan aku berharap agar engkau lebih bersabar. karena penderitaan bisa dihitung, sedangkan kebahagiaan itu diperoleh pada akhir cerita, asal kita bertakwa kepadaNya.
..untuk adik May, kamu baik-baik ya, untuk Ibu, Ayah, dan saudaramu juga.
(f: anonim)