tak sudah-sudah.
masih jelas aku ingat bagaimana dengan lantang kau bilang, bahwa nyamanmu bukan lagi aku yang ramu, namun dia yang kini bersamamu, lebih pantas daripada aku yang bertamu. sejak akhir dari telepon itu, kesalahanku ialah tak pernah merindu selain kamu, tak pernah berani jatuh dengan yang baru. kepada hati yang bukan untukku, sungguh, yang paling membunuh ialah menahan diri untuk tak menghubungimu lebih dulu. mengalihkan pandangan saat melihatmu, dengannya. meski itu hanya selembar foto yang ada di sosial mediamu. tapi segala caraku gagal, untuk memerangi masa lalu, merelakan kamu.