Postingan

@mayangkherawati

Diam

*percakapan via telepon video* "aku hanya ingin melepas penat, dan bersama kawanku rasanya itu membantu. dengan beban yang kubawa sejak beberapa waktu terakhir,  dengan kau yang tidak juga disini, dengan temu yang tak kunjung mampir, semuanya terasa begitu berat. memuakkan.  kepalaku terasa seperti pasar malam, penuh, sesak, dan riuh. kau tau? terkadang kau bisa menjadi begitu menyebalkan ketika marah, hanya karena aku ingin pergi dengan mereka.  bagiku mendengar suaramu melalui telepon saja itu tidak cukup. rasanya selalu ada yang kurang. dan setiap kali itu terulang, aku merasa kau kekang" ----- aku memilih diam. mendengarkan setiap kata, yang aku tau cepat atau lambat, pada akhirnya akan kau sampaikan. mencoba menerima semua yang menurutmu kenyataan,  mengabaikan bahwa aku tidak jarang kau kecewakan. aku memilih diam. tidak mengelak tiap kesah darimu yang mengeluh,  menyadarkan diriku jangan sampai aku berharap telal...

tak sudah-sudah.

Gambar
masih jelas aku ingat bagaimana dengan lantang kau bilang, bahwa nyamanmu bukan lagi aku yang ramu, namun dia yang kini bersamamu, lebih pantas daripada aku yang bertamu. sejak akhir dari telepon itu, kesalahanku ialah tak pernah merindu selain kamu, tak pernah berani jatuh dengan yang baru. kepada hati yang bukan untukku, sungguh, yang paling membunuh ialah menahan diri untuk tak menghubungimu lebih dulu. mengalihkan pandangan saat melihatmu, dengannya. meski itu hanya selembar foto yang ada di sosial mediamu. tapi segala caraku gagal, untuk memerangi masa lalu, merelakan kamu.

perihal cinta perempuan mabuk

Gambar
penghujung bulan April, waktu itu hujan turun hari Kamis kau tidak akan pernah sama, dengan mereka yang aku tulis, adalah sesuatu yang kini tak henti-henti aku pikir, lalu menangis. kau bilang: "lama-lama sabarku padamu akan habis" sejak kau pilih bahwa dariku, ia lebih manis. sayang, kuberi tau sesuatu, rupa cantik milik perempuan lain yang kau pandang-pandangi itu, belum tentu memiliki mata yang sanggup menangisimu disepertiga malamnya, belum tentu memiliki bibir yang sanggup mengucap amin paling serius dalam setiap rapal doa, setiap kali tangannya menengadah menghadap langit, setiap kali dadanya sesak menahan sakit, setiap kali ia bercerita pada Tuhannya yang Maha Baik. belum tentu sayang, belum tentu. lihat dia, matanya memerah, pipinya sembap seperti orang sedang mabuk. setiap cemburu yang kau anggap remeh itu adalah aku yang mati-matian menjaga ruang didekat jantung yang mereka namai hati. setiap gelisah yang kau biarkan adalah aku yang sendiria...