Setega Itukah Cinta?
-- Sudah beberapa bulan ini perasaan bodoh itu "baru" memperlihatkan dirinya. --mungkin bukan perasaanku yang bodoh, hanya saja memang aku yang bodoh.-- Tak menentu langkah hati yang ingin kuambil. berjuang kah? atau malah harus kupadamkan rasa ini? menjadi tak yakin akan jawaban sendiri. Aku bukan lagi gadis yang jatuh cinta akan sajak. karena dia yang tadinya sumber kata-kata kecilku, dimana tempatku mengumpulkan sajak tentangnya. tentang keindahan mencintainya. sudah menutup hatinya.. Dia menutup hati dan sayangnya kini aku tak bisa lagi melihat serakan alfabet yang dapat aku susun menjadi sajak nantinya. Selama ini dia adalah alasanku menulis, dia alasanku lebih sering menghabiskan waktu dengan menyebut namanya dalam setiap sujud doaku. atau dengan buku kecil dan pulpen yang tentunya tak bosan-bosannya kugenggam. entah itu untuk memulai huruf-huruf baru yang akan ku catat di setiap lembarnya atau bahkan hanya sekadar membaca apa yang telah ku gores secara berulan...