Setega Itukah Cinta?

--


Sudah beberapa bulan ini perasaan bodoh itu "baru" memperlihatkan dirinya. --mungkin bukan perasaanku yang bodoh, hanya saja memang aku yang bodoh.-- Tak menentu langkah hati yang ingin kuambil.
berjuang kah? atau malah harus kupadamkan rasa ini? menjadi tak yakin akan jawaban sendiri.
Aku bukan lagi gadis yang jatuh cinta akan sajak. karena dia yang tadinya sumber kata-kata kecilku, dimana tempatku mengumpulkan sajak tentangnya. tentang keindahan mencintainya.
sudah menutup hatinya..
Dia menutup hati dan sayangnya kini aku tak bisa lagi melihat serakan alfabet yang dapat aku susun menjadi sajak nantinya.

Selama ini dia adalah alasanku menulis, dia alasanku lebih sering menghabiskan waktu dengan menyebut namanya dalam setiap sujud doaku. atau dengan buku kecil dan pulpen yang tentunya tak bosan-bosannya kugenggam. entah itu untuk memulai huruf-huruf baru yang akan ku catat di setiap lembarnya atau bahkan hanya sekadar membaca apa yang telah ku gores secara berulang kali. bagaimana bisa dia terlihat begitu indah di lensa penglihatanku? entah..
aku hanya mencintainya, lalu ku tumpahkan rasa itu ke dalam buku kecil ini.
Aneh, karena itu sudah tak lagi kulakukan. dia yang memutuskan untuk menutup hati, menutup dirinya agar tak lagi bisa kulihat di mataku. tak dapat lagi kujangkau di sanubariku. dia menutup hati agar keindahan mencintainya tak bisa lagi kutulis.



Aku bisa apa?
apa yang akan aku tulis kemudian?
sedang selama ini, keindahan mencintainyalah yang dapat aku ukir melalu tinta hitam ini.
selain keindahan mencintainya, akupun menikmati perihnya jika kehadiranku tak pernah ia lihat.
perhatianku tak pernah ia rasa, kecemburuanku tak pernah ia sadari.

--  memang, kau ini siapanya May?
    apa kamu berhak untuk memiliki rasa cemburu?
    kau inikan tidak lebih dari seorang teman untuknya. dan tidak akan pernah lebih dari itu.

Aku kalah..
aku kalah akan "kebutaannya".
aku kalah akan "ketidak-peduliannya".
terkadang aku berpikir, apakah ini "Karma"ku?
jika ya, kapan ini akan berakhir?
sampai kapan kuharus meradang, berjuang sendiri untuk seseorang yang bahkan...
tak mengharapkan kehadiranku?
aku tahu, aku salah.. pernah tak hiraukan perasaannya. pernah tak mengakui nyata perasaanku.
yang mungkin saja... saat itu aku juga cinta. hanya saja aku terlalu bodoh, terlalu muda untuk menyesali.

-- Aku bilang juga apa. kau ini memang bodoh May!
   seseorang yang pernah kau sakiti, lalu kau mengharapkannya kembali?
   kau ini bodoh atau gila? jelas sudah dia tak mengharapkanmu.
   dia tak menginginkanmu lagi. kau ini cuma temannya. mau apa lagi?
   jadi kuburlah harapmu yang ketinggian itu. dia tidak memiliki sedikitpun rasa untukmu!

Seandainya dia tahu Besar rasaku..
Parah lukaku..
Tinggi Perjuanganku.. Andai saja..



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PULANG

Sebuah Imagi

dear no one..