PULANG
25 Januari 2018 - [23:59]
Bumi Pasundan kembali berkisah.
Tentang sekumpulan anak manusia yang dijajah jarak hingga terpisah..
Tapi ini bukan tentang mereka, ini tentang ia yang berkali-kali kucoba tuk lupa namun didalam hati ia masih saja merupa
Tentang ia yang sekuat apapun usahaku tuk membenci, selalu berhasil membuat debar jantung yang aneh setiap kali ku kembali
Rasanya seperti, seluruh semesta berhenti hanya untuk
membiarkanku melihat tatap itu lagi setelah beberapa tahun kita kalah
telak oleh jarak. kini, kita menang bersorak.
Maaf jika kedatanganku memberimu pertanyaan, bukan karena kehadiranku tak kau inginkan.
Namun saja, kepadamu, kabar kedatanganku sama sekali tidak kusampaikan.
Maaf, Almond.
Aku sengaja.
Jika sekarang kau membaca tulisan ini, aku yakin bahwa yang ada dipikiranmu adalah ‘aku tidak ingin menemuimu’
akan kukatakan, kau salah.
Akan kujelaskan. Bisakah?
Aku hanya tak ingin kembali kecewa ketika menemuimu, seperti pertemuan terakhir kita dua tahun lalu.
Aku yang tengah patah hati, berharap dengan kepulanganku ke Bandung akan menjadi pengobat atas luka yang ingin kuobati.
Andai saja kau bisa memahami bagaimana kecewanya rasaku disaat
kau dengan acuh menyikapi pertemuan kita. Setelah aku tidak kembali
selama... berapa? tiga tahun?
Sedang terakhir kali ku kembali, aku berani bertaruh bahwa aku
masih menjadi perempuan yang ada di deretan paling atas pada hatimu.
Perasaanku berantakan pada saat itu.
tanpa rasa bersalah kau tinggalkan aku setelah pertemuan kita yang hanya berlangsung tidak lebih dari lima belas menit.
Aku bisa lihat, kau bukan lagi seseorang yang berjalan bersamaku ketika pulang sekolah saat sekolah dasar.
Kau juga bukan lagi seorang anak laki-laki polos yang kujadikan sahabat kala kelas 4 dulu.
Bukan pula seorang anak laki-laki yang dulu berani menembakku melalui telepon rumah.
Kau seorang yang lain sekarang.
Kau berubah.
Dan perasaanku berperasaan.
Perasaanku berantakan.
Dan aku menerima semuanya. Kuterima.
Sesak yang menyumbat rongga udara dalam dadaku.
Rindu? Entah. Yang kutau rasanya begitu menyesakkan.
Perih, tapi sakitnya ada didalam.
yang tiba-tiba membuatku tetap terjaga saat larut malam.
Debarnya tak kunjung berhasil ku redam.
Meronta menjadi lebam.
Mungkin dulu aku memang salah menyikapi perasaanmu, Maaf.
Aku mengacau.
tapi jika saja semua itu bisa kembali terulang, sungguh aku akan berjuang.
Sebab aku percaya, kau adalah rumah.
Dari segala musim yang berubah.
Dari lukaku yang sudah-sudah.
Sejauh apapun aku pergi, kau selalu menjadi kepulanganku yang paling kunanti diantara kedatangan-kedatangan hati yang lain.
Selama apapun waktu yang kubutuhkan agar aku kembali padamu, aku akan tabah menunggu temu.
Tak apa aku sekarang kau acuhkan
Tak masalah sekarang aku kau nomor sekiankan
Sebab aku tahu, jauh didalam dirimu
Kau akan selalu punya tempat untukku
Sebab aku yakin, jauh.. jauh didalam hati
Aku masih mampu kau sayangi
Namun kau hanya terlalu takut untuk mengakuinya
Terlalu naif untuk kembali memulainya
Sebab kau bilang, penolakan yang kuberi secara mentah-mentah
kala itu, meledakkan nebula pengharapanmu yang hingga kini hanya menjadi
bintang redup pada langit malammu.
Perlahan, kini ia sayup.
Bersinarpun ia tak sanggup.
Namun malam ini, setelah perjalanan dari tempat terakhir kali kita bertemu setelah dua tahun lalu,
Aku kembali menyusuri jalanan menuju Dago Pakar.
Suatu tempat yang cukup dingin di Bandung, aku yakin kau masih ingat tempat itu.
tempat dimana kita bisa melihat kerlip lampu Bandung yang menyala dari atas saat malam.
Indahnya Bumi Pasundan tidak bisa aku bahasakan.
Damainya hanya sanggup ku simpan.
Terabadikan.
Di perjalanan melewati Dago Pakar, angin dingin kubiarkan berhembus menyapu wajahku.
seraya mengingatkanku akan percakapan kecil kita dua tahun lalu
tentang jagung bakar, minuman sachets seduh yang kau tawarkan, hingga
tanganku yang kau hangatkan di atas motor di lampu merah kota Bandung.
Alisku mengkerung. Anganku terlalu jauh melambung.
Maaf, aku kembali mengingat kita.
maksudku, kau dan aku yang ‘hampir’ menjadi ‘kita’
Saat ini ketika menulisimu, ada tiga lagu yang terus menerus terulang di song playlist-ku.
🎼Kesempatan Kedua-Tangga
🎼Cinta Datang Terlambat-Maudy Ayunda
🎼Almost is never Enough- Ariana ft. Nathan
Kau boleh tertawa jijik
tapi tabik, apa kau akan biarkan hatiku tercabik?
*Namun sungguh, aku benar-benar sedang mendengarkan ketiga lagu itu ketika menulis tulisan ini*
Kau tau, apa yang dikatakan seorang saudariku?
Jika saja kau adalah tokoh dalam sebuah buku, kau adalah tokoh kesukaannya.
Katanya sedari dulu kau adalah ‘kisah paling spesial’ yang pernah ia dengar dari seorang perempuan sepertiku.
Aku setuju, menurutmu?
Dia juga berkata bahwasannya jika dia menjadi diriku, dia akan
menulis lebih bagus lagi dari seorang fiersa besari atau boycandra.
Mungkin dia sedikit berlebihan, haha
Tapi maksudnya adalah dibalik semua tulisan yang bagus itu, pasti ada pergelutan hati yang bukan main kelutnya.
Dan dia mendapati itu, setiap kali aku bercerita tentangmu
Karena itu pula, aku selalu berhasil kembali menulis melalui
aksara yang di tanam oleh rindu-rindu setelah mata kita beradu temu.
Melalui porak-poranda hati itu aku selalu berhasil membahasakan
betapa bodohnya aku yang dahulu ingkari kata hati sendiri, yang mungkin
saja waktu itu kita bisa saling memiliki.
lalu kemudian kau memilih menutup mata, terlalu buta melihat cinta yang ada.
Dariku kau berlalu, menjelma semu dalam rindu.
Entah kepada
siapa ia menuju, coba kau ingat dulu,
Perempuan lugu yang pernah buatmu
jatuh.
Aku berhasil menahan diri agar tak menghubungimu terlebih dahulu. Selamat untukku. Aku mengalahkan rindu.
Namun sampai akhirnya, kau dengan segala kuasa, memohon untuk bertemu.
Lalu, dengan rasa haru, ku-iya-kan tawaranmu.
Entah apa yang kau lakukan, nalarku tetap saja tak bisa membenarkan.
Tapi malam itu, segala sesuatu yang mengatasnamakan rasa tidak bisa disalahkan.
Faktanya, apapun itu ialah mesti sesuatu yang kuat.
Jumpa yang kau minta dengan teramat sangat, aku sempat, meragu hingga penat, namun tidak hingga tamat.
“hai” katamu, yang menyambut dengan senyum lalu kubalas dengan sapaan malu.
“sendiri?” tanyaku “sendiri” balasmu
Lalu kita terduduk, beberapa menit berlalu percakapan itu dibuka dengan tanyamu yang mungkin sudah sedari kemarin kau siapkan..
“kamu pulang, aku ga tau. kenapa ga ngabarin?” kau bertanya
“oh iya, itu.. iya aku ga ngabarin” jelasku
“kenapa?” kau bertanya singkat
Harus ku jawab apa? Kujawab bahwa aku sengaja? bahwa aku takut kembali kecewa?
“takut kamu sibuk, takut gabisa hehe” kataku yang sedari tadi sudah kehabisan alasan menjelaskan
“kalau kamu ngabarin, aku bisa sempetin waktu” katamu
“biasanya gitu, suka sibuk.. takut gabisa” kubalas kaku
“engga..” yang kau jawab dengan pasrah
Semuanya terjadi begitu cepat
Kau yang tiba-tiba di hadapanku, kembali berhasil merangkai puisi dari hari-hari yang lelah menanti.
Aku senang kau datang.
Malam itu, rindu kembali menang.
Aku kalah, Kau pula.
Katakan padaku,
Bahwa kau benar ada malam itu.
Yakinkan aku,
Bahwa semua tidak hanya terjadi di dalam kepalaku saja.
Sadarkan aku,
Bahwa pertemuan itu nyata adanya.
Apapun yang membawamu kembali padaku malam itu, aku berterimakasih atasnya.
Sebab ia membawa pulang rindu kepada tuannya.
Rindu itu menemukan jalan pulang, sejauh apapun ia pernah tersesat.
Malam itu, ia pulang.
seorang penulis bernama eldina pernah berkata, bahwa rindu adalah karma yang manis.
Aku sedikit kesal sebenarnya, tapi apa yang dikatakannya itu benar.
Rinduku padamu adalah karma yang kuterima atas segala sakit yang pernah kukirimkan pada hatimu dahulu.
Dan kini Rindumu adalah muara yang membawa temu, atas karma yang kau peluk.
Saat pembicaraan terakhir kita, dua tahun lalu. Kau memaksaku untuk kembali berenang dalam penyesalan.
Aku tenggelam.
Saat itu aku tau, rindu akan mulai menggerogoti jantungmu.
Bak vulkano yang sudah siap meledakkan laharnya, ia semakin tak tertahan saat kau dengar aku datang.
Kini siapa yang hampir mati terbunuh rindu?
Siapa yang sekarat menahan karma?
Benar kata eldina, rindu itu adalah karma yang manis.
Aku, kamu, kita kalah.
Sudahlah..
Tak lelahkah kau, akan kita yang saling melempar karma?
Tak penatkah kau, akan kita yang saling menyembunyikan rasa?
Bersandiwara bahwa tak terjadi apa-apa
Berpura-pura seakan cinta tak pernah ada
Aku tahu, kau pasti mati-matian menutupi kebenaran bahwa aku kau rindukan.
Segala cara kau halalkan, agar sedikitpun tak akan ketahuan.
Kau bertali kasih dengan seorang perempuan,
Kau jadikan jogyakarta sebagai destinasi tujuan,
Sebab disana, dengannya, aku selalu berhasil kau lupakan.
Kau tahu kan? Bumi Pasundan selalu menjadi tempatku kembali,
Maafkan, bukan maksud ingin menyakiti lagi,
Tapi untuk selalu menjadikanmu rumah pemilik hati, aku berharap kau sudi.
Seperti katamu,
Sebagai tanda akhir dari pertemuan malam itu,
“Sampai bertemu dilain kesempatan”
Aku aminkan. Semoga.
Terimakasih selalu berhasil menghidupi aksaraku disaat aku kehilangan kata-kata,
Teruntukmu, Almond.
Komentar
Posting Komentar