Terimakasih, telah memutuskan untuk pergi.

"lewat karya dia berbicara; merupa, menulis,
bercerita pada dunia tentang lelaki yang dahulu bertahta pada deretan paling atas dalam hatinya.
dia mencinta lelaki yang jelas-jelas tidak mencintainya" -wira nagara

kepada sesiapapun yang pernah datang, lalu kemudian hilang.
kepada ia yang pernah mengetuk, namun enggan masuk.
dan kepada kamu, yang pernah ingin singgah lalu berpikir tak usah.

setelah patah hati terakhirku, kuputuskan untuk tidak membiarkan siapapun untuk mendekat.
bukan karena aku tidak berhasil 'move on' dari ia yang pernah mencipta luka.
bukan pula karena aku tidak menemukan seseorang seperti ia yang dulu ku puja.
hanya saja setelah tragedi patah hati itu, rasa-rasanya semua yang ingin mengucap "hai" sudah terdengar seperti "selamat tinggal" bagiku.
lalu jika itu adanya, apa yang harus diselamati dari 'selamat tinggal' ?
baguslah jika seseorang itu mengucapkan perpisahan,
namun jika yang terjadi adalah bak dibawa ketengah riungan orang di tengah pasar malam, lalu kau ditinggal dalam keramaiannya.

dihempas, lalu teregas.
pahit.
oh, ternyata ampas.

ya, kali ini aku memang tengah menikmati secangkir kopi macchiato.
di kedai kopi kesukaanku.
yang kudatangi, hampir setiap pekan.
yang ketika ku datangi, dua orang barista sudah tersenyum dibalik bar-nya.
karena mereka tau, mereka sedang kedatangan seorang perempuan yang selalu menghabiskan waktunya berjam-jam di kedai ini, hanya untuk menulis, membaca atau hanya sekadar memesan menu-menu baru ditiap harinya.
sore ini, entah mengapa, jariku memaksaku untuk membuka deretan draft-blog-ku yang sejak lama tak pernah kuselesaikan.
lalu aku membuka draft ini.
tertulis 'terimakasih, telah memutuskan untuk pergi' pada kolom judulnya.
lalu kembali kuingat tentang apa tulisan ini bercerita.

macchiato yang kupesan, terasa seperti disaat dulu kukecap pahit dimana kala itu kau tinggal aku dalam keadaan sedang sayang-sayangnya.
lucu, konyol, ironis. karena hal itu kini, kusesali tak ada habis.
sesal akan bodohnya aku yang dulu tak berhenti menangis.
sesal akan luka yang dahulu tak kunjung berhasil kutepis.

sesal akan aku yang pernah tak henti-hentinya merindu selain kamu.
sesal akan aku yang pernah tiada habis menceritakan namamu pada tuhanku.
sesal akan aku yang tidak pernah menyayangi selain dirimu.

ingatkah? siapa yang tiba-tiba pergi, disaat aku dengan segala cara berusaha mencari.
lupakah? siapa yang dengan kejam meledakkan petasan tahun baru,
tepat pada percakapan di telepon genggam, sore itu.
dengan lantang kau bilang "tidak" disaat kutanya, apakah dihatimu masih ada aku.
walau itu secuilpun.
BOOM! petasan itu meledak tepat di dinding gendang telingaku.
berantakan. perasaanku berantakan.
perasaanku berperasaan.

kau tidak akan melakukan itu, jika saja kau tahu bagaimana hancurnya hatiku saat itu.
bukan main sakitnya, kau balaskan aku dengan hinaan atas nama cinta.
kau bilang, aku yang tiada mengertimu.
kau bilang, aku tak lagi kau cinta. kau patahkan janji kita atas nama Tuhan.
kau berpendapat, bahwa kita sudah tidak ada kecocokan.
sedang dahulu perbedaanlah yang membuat kita berjanji atas nama cinta.

Maaf, setelah hampir tiga tahun lamanya semenjak kau akhiri 'kita'
aku masih saja menuliskan sajak-sajak tentangmu.
masih saja menulisimu dalam puisi paling sakit yang pernah kubuat.
maaf, aku tidak menyesal.
aku tidak menyesal telah menulisnya.

aku tidak menyesali luka yang pernah kau beri, tiada henti.
meskipun sempat mematahkan harap akan aku untuk terus mencari,
siapa yang kelak pantas di dalam hati.
aku ingin berterimakasih, untuk engkau yang pernah ada dan memutuskan untuk pergi.
aku mohon, jangan pernah berpikir untuk kembali.
sebab menerimamu lagi, aku, sudah tak sudi.






Komentar

  1. Izinkan aku mengenalmu lewat doa

    BalasHapus
  2. Semoga aku menjadi nara sumber dari sebuah naskah itu

    BalasHapus
  3. Teruslah menulis, karena tulisanmu membuat rindu para pembaca. Bersajaklah, laksana kicauan burung kenari. Tidak, karena sajakmu lebih indah. Terima kasih, karena tulisanmu yang membuat jantung berdebar merindukan perubahan.
    May, jangan lupa shalat yah.. sepertinya kamu sdh dewasa, adik besarku. Haha..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PULANG

Sebuah Imagi

dear no one..