Sebuah Imagi


suatu masa di sebuah stasiun kereta di Brickfields, Kuala Lumpur Sentral. mereka saling menyelakan jemari satu sama lain sambil berjalan lalu disandarkan kepala perempuan itu ke bahu lelakinya, dalam percakapan mereka, seraya perempuan itu berkata


"aku selalu membayangkan..."
"membayangkan? membayangkan apa?" jawab lelaki itu.

lantas perempuan itu mengutarakan imagi-nya...

Sebuah usaha, agar orang-orang lebih banyak bicara dengan mata, pemerintah membuat aturan ketat: setiap orang hanya berhak memakai seratus tiga puluh kata per hari, pas.

Jika telepon berdering, aku meletakkan gagangnya di telingaku tanpa menyebut Halo.
di restoran aku menggunakan jari telunjuk memesan mi atau Coto Makassar. aku secermat mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.

Tengah malam, aku telepon nomor kekasihku, dengan bangga aku bilang padanya: Aku menggunakan lima puluh sembilan kata hari ini. sisanya kusimpan untukmu.

Jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti ia telah menghabiskan semua jatahnya, maka aku pelan-pelan berbisik: Aku Mencintaimu, sebanyak lima belas kali. Setelah itu, kami hanya duduk membiarkan gagang telepon di telinga kami dan saling mendengar dengus napas masing-masing.

mereka terduduk, lalu menatap satu sama lain. mata lelaki itu penuh tanya akan maksud perempuan itu mengutarakan imagi nya. dia masih berusaha untuk mencari tahu sendiri jawaban dari tanya yang menari-nari di kepalanya itu

"bagaimana kalau dalam masa sepuluh atau dua puluh tahun kedepan, pemerintah kita membuat aturan seperti itu?" kata perempuan itu, memecah keheningan diantara mereka.

"wow, itu tidak akan terjadi!" bantah si lelaki

"anggap saja ini terjadi, apa yang akan kau lakukan kelak? apa kira-kira kau bisa mematuhi aturan yang dibuat pemerintah?" perempuan itu bertanya

"yang akan aku lakukan kelak, aku akan mencanlonkan diri sebagai presiden dan menghapuskan peraturan itu!" dengan nada sedikit membentak

"tapi bagaimana jika aku yang presiden, lalu aku tetapkan peraturan itu di negara kita? apa kau masih bisa patuh akan aturan?" balas canda perempuan itu sambil tertawa kecil, untuk mencairkan suasana hati si lelaki

"jelas tidak. untukmu? aku tidak bisa mematuhi peraturan itu. itu tidak akan baik untukmu, terlebih untukku. apa kau bisa? apa kau sanggup untuk tidak mendengar suaraku jika jatahmu atau jatahku habis? baiklah jika kau bisa tapi aku tidak. jika suatu saat jatahku habis, lalu aku rindu kau, lantas aku harus menahan untuk mengutarakannya? bagaimana mungkin aku bisa untuk tidak mengucapkan kata-kata itu untukmu? atau sebaliknya, bagaimana jika jatahmu habis lalu aku ingin mendengar suaramu? tidak. aku tidak bisa! aku akan memilih pindah negara dan mengajakmu pergi, itu yang akan ku lakukan!" tegas jelas si lelaki itu dengan emosional



perempuan itu terdiam, memaknai semua ucapan yang lelaki itu katakan padanya. dia tidak tahu harus mengucapkan apa lagi. sebuah jawab telah ia temui, tanpa lelaki itu sadari, bahkan tanpa kau(re: yang sedang membaca tulisan ini) sadari, dibalik imagi perempuan itu tersirat sebuah pertanyaan sederhana; apa kau mencintaiku?
 perempuan itu telah bertemu akan jawab yang ia cari. dan membuatnya yakin atas jawaban yang ia temui.
lalu mereka saling tatap untuk beberapa lama, lalu kembali perempuan itu bersandar di bahu si lelaki. mereka terdiam dalam keramaian suasana stasiun kereta.

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Hahaa keren may, kalau nnti jadimko penulis atau terbit bukumu, harus saya pertama dapat tndatngnmu nah haha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PULANG

dear no one..