untuk ia, yang pernah mencinta..
"Aku yang selalu kebingungan, mencari-cari kata, yang tepat untuk memulai sebuah tulisan.
Aku yang tidak pernah bisa menemukan, kata apa yang dapat mendefinisikan berbuah-buah kesakitan yang di redam oleh perasaan" -mkh
Menemaniku pada tiap aksara yang kususun, sebuah lagu(re;teroesir-nidji) terputar di tempat ini, sebuah kedai kopi tempat-dimana-setiap-pasangan-pernah-menyandingkan-dua-buah-cangkir-kopi-mereka yang tiap gelasnya berisi masing-masing kepahitan cerita cinta yang mereka jalani.
bukan, aku bukanlah hendak mengumbar kepahitan akan kopi yang kuseduh.
tidak pula, menyombongkan akan luka yang kini telah kau tinggal, dalam keadaan menganga.
hanya ingin mengulang sebuah kebiasaan-yang-sudah-terlalu-lama-kutinggalkan
yaitu kembali membahasakan apapun yang dapat kutulis.
secara pelan, namun pasti aku akan kembali menuliskan apa yang di-turunkan hujan
apa yang di-indahkan pelangi
pula apa yang di-gambarkan sebuah senyuman pada penghabisan air mata
jika ingin mengingat bagaimana kisah 'kita' --- maksudku, kisah 'kau'-dan-'aku' berakhir, itu bukanlah sesuatu yang baik untuk didengarkan. atau mungkin lebih tepatnya, bukan sesuatu yang baik untukku menceritakan ulang kisah itu pada tulisanku.
namun, bukankah itu yang dilakukan oleh seorang penyair?
menceritakan kesakitan yang sedang ataupun yang pernah mereka alami.
namun satu yang pasti, "Jika kau menyakiti hatinya, bersiaplah karena namamu akan menjadi puisi paling sakit yang tak akan pernah selesai.."
apakah sudah kau ceritakan kepada orang-orang tentang betapa-tidak-bahagianya-dirimu-ketika-bersamaku-dulu ?
atau sudahkah kau ceritakan kepada teman-temanmu, tentang aku-yang-kau-bilang-tak-pernah-bisa-mengertimu?
oh aku mengerti, dan kau sama sekali tak perlu menjawabnya, aku sudah bisa lihat jelas dari sikapmu yang kini berlagak 'kaulah yang butuh bantuan' bahwa 'kaulah yang semestinya diselamatkan'.
dan melihat banyak respon dari mereka yang sepertinya menjadi pendengarmu, melihat komentar-komentar mereka berlalu-lalang di social mediamu, cukup pasti jawabannya adalah "ya" bahwa kau telah melakukan skenariomu dengan baik. sangat baik.
semoga pembaca-ku pula bisa menilai dengan baik, melalui tulisanku.
tentang siapa yang [pernah] mati-matian mempertahankan siapa, walau terus diabaikan
tentang siapa yang [pernah] sendirian memperjuangkan siapa, walau tetap tidak dihargai
tentang siapa yang ditinggalkan siapa, hanya karena seseorang yang lagi-lagi [pernah] ada di masa lalu
paragraf diatas seharusnya tidak dibaca dengan nada se-jahat-itu. haha
seharusnya bisa kusadari dari jauh hari, bahwa hasrat itu sudah mati pada dirimu.
seharusnya dapat kukira dengan jelas, ternyata kau sudah muak akan 'kita'.
seharusnya pula kau tidak perlu berpura-pura sembuh dari luka lamamu, lantas kau mencari perempuan lain untuk kau jadikan pelampiasan (re:aku ialah lukamu yang seakan-akan sembuh lalu kau sandiwarakan di depan dia yang dulu menyakitimu)
bagiku kau adalah aktor yang hebat, sebab kau bisa berpura-pura menjadi sosok laki-laki yang berbahagia denganku setelah sekian lamanya kita bersama, cukup lama bagiku. malahan, ini yang paling lama bagiku selama aku menjalin tali kasih dengan seseorang. hebat juga kau yah?
kukira bahagia yang selama ini kurasa, kau pula rasakannya.
sampai akhirnya ku ketahui, secara kiasan kau ucap
"aku sudah tidak sanggup lagi,
beri kamu hidup palsu ini.
aku bukan diriku,
hidup dalam hidupmu,
sungguh ini bukanlah diriku.
tak akan kuteruskan lagi,
lebih baik luka saat ini,
aku bukan diriku,
hidup dalam hidupmu.
sungguh ini bukanlah diriku"
maka hiduplah pada duniamu kini
hiduplah dengan dirinya yang menurutmu bisa menjadi duniamu
janganlah membuang waktumu dengan mendustai seseorang dengan cara berpura-pura bahagia bersamanya [re:seperti yang kau lakukan padaku selama berbulan-bulan lamanya]
hidupmu terlalu singkat untuk menipu manusia
temukanlah dirimu, jangan jadi seseorang yang lain ketika mencinta-dan-dicinta
sebab pada masa itulah, cinta bisa membuktikan bahwa; benarkah seseorang dapat menerima kita dengan segala ketidaksempurnaan yang kita miliki dengan cara yang sempurna
sekali lagi, temukanlah dirimu wahai pemuda..
kau terlalu baik untuk menipu [lagi]
kau terlalu baik untuk mendustai[lagi] seorang perempuan yang akan menc*ntamu tanpa syarat kelak
jangan datang membawa harap, kemudian pergi meninggalkan derita
jika tidak sanggup membahagiakan, setidaknya jangan mengecewakandan berbahagialah kau dengannya
kau mungkin menyadari, perempuan itulah yang kau cari
dan kau buatku sadari, pada tuhanku-lah seharusnya aku kembali
butuh waktu lama bagiku, untuk mencerna secara perlahan apa yang sebenarnya terjadi
mengapa aku takut ditinggalkan, sedang nyatanya aku sudah ditinggalkan(?)
mengapa aku takut kehilangan, sedangkan aku tidak pernah benar-benar memiliki(?)
naif memang manusia, merasa angkuh akan apa yang mereka punya
hakikatnya semua itu hanya sementara
aku sadar, bisa jadi kau sudah sangat muak membaca tulisanku yang bercerita tentangmu
yang membahasakan betapa tersungkurnya ia yang maha tersungkur mengecap syair penuh peluh darah pada tiap aksaranya
perempuan yang kini, masih saja setia menjadikanmu sumber kata-katanya
tidak.
tidak lagi, ai pemuda..
ia memang pernah terkapar
ia sempat menderita
juga merangkak dengan kaki yang berdarah dan bernanah hanya untuk kembali berdiri
bahkan hatinya telah kau mati-suri-kan
ya, bukan hanya ruh yang bisa mati lalu hidup kembali
hati, yang kau terlantarkan ini pun bisa mati dan nyatanya ia selamat
ajaib? bukan...
lagi-lagi ini adalah berkah, hadiah dari sang-maha-pengabul-setiap-pucuk-pengharapan-makhluk-Nya
jika kau bilang, kau tahu persis rasanya jadi aku
dan jika kau pun pernah dengan yakin berucap, kau tahu bagaimana sakit yang kurasakan
apa yang kau tahu, ai pemuda?
katakan, apa...[?]
kau sempat dengan percaya diri yang tinggi, mengatakan kepada-perempuan-yang-kini-bersamamu-itu bahwa; kau tahu bagaimana rasanya diposisiku
betapa berat yang kulewati
kau mengerti parahnya hal yang kulalui
kau paham akan setiap decit perih yang diisakkan oleh jantungku
DAN KAU BERKATA, KAU MENGERTI SEMUA ITU
HANYA SATU HAL, AKU YANG TIDAK BISA PAHAM AKAN DIRIMU?
ku tanyakan baik-baik padamu, ai pemuda...
hal apa yang tidak bisa kuterima dari dirimu?
bagian cerita mana yang tak bisa kumengerti dari hidupmu?
apa yang membuatmu berkata seperti itu?
apa yang membuatmu sampai hati, menceritakan hal seperti itu pada mereka; pendengarmu.
paragraf diatas seharusnya tidak dibaca dengan nada se-jahat-itu lagi
tapi, seperti pepatahmu tentangku, pada perempuan itu lagi;
nasi sudah menjadi buburmau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur kutulis
harus bagaimana lagi, perih itu telah berlalu dari jiwaku
semuanya sudah terlanjur terjadi
luka itu sudah terlanjur kutelan bulat-bulat
sakitnya telah berhasil pula aku redam, sendirian.
yah, sakit yang kau tinggal, ku obati sendiri dengan sedikit bantuan dari waktu dan keyakinan.
hal magis terjadi padaku, sejak luka itu kau tancapkan pada dinding hatiku
sulit dipercaya, aku selamat dari mati-suriku
hatiku terselamatkan kembali.
jika perlu mengingat, apa yang kulalui tidaklah mudah
berat benar, perih yang kau tinggalkan tanpa pamit.
tanpa ada penjelasan, kau pergi.
dan dengan beraninya kau mengatas-namakan kepergianmu dengan nama perasaan.
dengan angkuhnya kau katakan ketidak-c*ntaanmu dengan mengatas-namakan tuhan.
sedang dahulu, yang kuingat jelas kau menyatakan kau c*nta padaku, dengan mengatas-namakan tuhan pula.
berani sekali kau bermain, seakan-akan c*nta itu hal sepele
sesuatu yang kupandang tinggi, adalah sesuatu yang kau pandang rendah
sesuatu yang menguatkan, kau anggap melemahkan
dan sesuatu yang kupercaya menghidupkan, ternyata dengan mudah kau matikan.
maka semoga kini, hal yang kau mulai dengan perempuan itu dengan kau atas-namakan-dengan-nama-tuhan-lagi dapat kau buktikan dengan baik dan semoga kau tidak bermain-main lagi dengan perasaan.
haha. sebab itu berbahaya.
ai pemuda, kau hampir membunuh seorang gadis yang bercita-cita tinggi
ai pemuda, kau hampir membuatnya hidup dalam kesengsaraan tanpa harap
namun ai pemuda, kini ia tersenyum sembari menuliskan kata-kata yang sedang kau baca ini
ia selamat, dari mati-suri-nya
sekali lagi, ia selamat.
ia tidak menyerah akan keadaan, hanya saja ia berserah pada tuhan
dan sungguh, jika kau berpikir tulisan ini ialah wujud amarah
kau salah besar.
tulisan ini adalah wujud kesyukurannya
kesyukurannya atas hidup kedua yang dihadiahkan untuknya
tiada benci apalagi dendam yang bersarang dalam relung jiwanya
sebab dengan tulisan ini, semuanya impas.
kau tentunya percaya itu.
bukankah kau mengenal betul gadis yang pernah bersamamu ini?
sebab itu, tersenyumlah ai pemuda
dan berkatmu kini ia ingin berterimakasih
karenamu, ia menjadi dirinya yang kini membahasakanmu lagi
karenamu, ia menemukan jalan pulang menjadi dirinya kembali
dan karenamu pula ia sadar, roda kehidupan benar berputar
setelah bahagia, pasti akan ada kesusahan
dan kesusahan itu, menjadi balut untuk bahagia yang kelak datang lagi
terimakasih ai pemuda
tulisan yang ku kerja selama hampir dua bulan lamanya, kini selesai juga.
berkatmu.
semoga kau tidak lupa, ini kutulis untukmu
untuk kepergianmu
untukmu, pemuda-yang-datang-dengan-pertandaNya
untukmu, pemuda-yang-pergi-dengan-inginNya-pula
untukmu, pemuda-yang-pergi-dengan-inginNya-pula
kau ialah pemuda yang pernah mencinta...
[in writing proccess, since 22nd of april '16]

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus