Dunia Bersamamu

Entah harus kumulai dari mana menuliskan cerita 'kita' Six, terlalu banyak rasanya hal-hal yang kita lewati bersama. Bahagia yang ada, ketakutan akan kehilangan satu sama lain yang selalu hadir, cemburu yang terkadang tak tahu tempat dan waktu yang tepat untuk datang, pula keRinduan yang tak bosan menikam-nikam jantung. Namun ingatlah, akan kucari kau selalu di setiap senja untuk kembali menghidupi aku yang kehilangan kata-kata..




"maaf may, ini salahku. tidak akan kuulangi, aku menyayangimu" mulanya
"bukan, ini murni karenaku, kau sama sekali tidak salah.." bantahku




*Kata-kata ini memecah keheningan di dalam mobil berukuran mini berwarna putih gading, beberapa hari lalu. Kemudian---kosong...

Hanya suara mesin dan air conditioner mobil yang mengisi keheningan pada saat itu*





---


lucu. pula sedikit romantis, (iya, sedikit saja. hehe)

ketika dua orang yang saling berjauhan---bertengkar karena suatu hal, sebenarnya bukan karena memperebutkan 'siapa-yang-harus-jadi-pemenang' dalam pertengkaran itu. hanya saja, rindu sedikit lebih licik mempermainkan hati keduanya.
mengecoh hati yang dilema antara ego yang tak pernah ingin kenal kalah, juga ada satu rasa yang terus menerus menggerogoti ruang-ruang kesabaran dalam dada yang mengharapkan sebuah pertemuan

yang biasanya dikenal dengan istilah RINDU.

namun ketika bertemu dan jarak tiada lagi berarti bagi keduanya, percakapan singkat itu seketika menjadi dingin. pun tekanan suara masing-masing merendah seakan tak paham arti amarah pula tak mengerti definisi emosi.

mungkin keduanya terlalu tidak sanggup untuk menyia-nyiakan sebuah pertemuan-yang-tak-direncanakan itu, dimana sepatutnya pertemuan itu menjadi tempat sang-maha-rindu bisa meledakkan nebula penuh sesak yang selama ini sudah cukup lama bersarang menikam-nikam sisi jantung sebelah kiri.
kejam memang sang-rindu itu, berperan sebagai tokoh utama dalam judul 'seandainya' pada angan. Mengapa? sebab hadirnya lah yang menjadi syarat paling atas, adanya gelisah dan alasan mengapa air mata mengalir lebih deras tiap malamnya.


---
benar katamu, kau berbeda.
maafkan aku yang tidak jarang menganggapmu seperti anak-anak, sehingga aku tak sadar bahwa terkadang kau lah yang bersikap lebih dewasa dariku diantara 'kita'.
terima kasih telah menerimaku dengan segala ketidaksempurnaanku yang sempurna.
terima kasih sudah berbagi denganku di tiap hari-hari yang telah 'kita' lewati.
terima kasih, kau selalu ada menemani di saat yang lain tidak ada. benar-benar ada.

kau menjadi alasan dari tawa lepasku, pula menjadi alasan dibalik tangisku.
Hebat! karena kau membuatku tertawa pun menangis disaat yang bersamaan.
teruslah seperti itu.
sebab, yang kubutuhkan ialah kau seperti sekarang! tidak lebih maupun kurang.


tepat pada tujuhbelas kita yang ke enam, six...
kutuliskan ini untukmu, kiranya kau tahu kesyukuranku atas doa' yang terduhulu ku lisankan.
memintamu kepada Sang Pemilik Hati setiap manusia.
lantas ia dengar kemudian ia datangkan kau dengan cara yang sungguh-tak-di-duga.
maka menetaplah... karena kau tidak akan pernah tahu betapa indahnya kedatanganmu untuk dikatakan.
terkadang, dalam mengatur kata-kata aku selalu miskin aksara. merindukanmu, aku tidak pernah berhasil membahasakannya. maaf.
tapi sungguh! begitu lebat hatiku merindukan engkau, begitu hebat doaku meraih-raih punggungmu yang jauh. Dan sungguh! begitu kuat aku mencintaimu.
engkau juga harus tahu, huruf hurufku tidak akan bosan menulis tentangmu. sebab di dalamnya, dirimu tidak memiliki usia.

teringat sebuah sajak, isinya seperti ini...

"Ketika aku hanya bisa menyentuhmu dengan kata-kata maka akan kuubah segala huruf demi menggapaimu, untuk menyampaikan segala sesuatu dan tidakkah sebuah atau berbuah-buah puisi adalah jalan terbaik untuk membahasakan detak hati?

Terima kasih sekali—dan berkali-kali.
atas 4 hal yang kauajarkan kepadaku, untuk mencintai seseorang lebih dalam meski hanya melalui kata-kata.

Alam.
ialah bagaimana kauajarkan aku mencintaimu, dengan menyadari: seberapapun jauh semesta memisahkan kita, cinta tidak pernah terlambat menuju, atau berhenti.


Musim.
ialah bagaimana kauajarkan aku mencintaimu, dengan menyadari: seberapapun gigilku jauh dari tubuhmu, tetap segala penantian akan terjawab, pada musim yang paling pantas. 


Eufoni.
kau membantuku mengingat, atas kata-katamu tentang betapa indah suatu bunyi, meski kutukan kerinduan singgah di dalamnya—sebagai penghuni.


Cerau.
aku sadar, tidak ada bunyi yang lebih berisik, dari ketiadaan di antara kita—seringkali derasnya mengalahkan gemuruh hujan. tetapi semua hanya masalah waktu, dan kuserahkan kerinduan pada Tuhan. 


lihatkah? kau mengajariku bercinta dalam puisi, tanpa perlu langsung bertatap mata.
dan aku percaya..
diciptakannya puisi—selain untukku mencintaimu,
ialah untukku,
mengenalimu."

 

 "Six, tinggalah. menetaplah bersamaku.
temani aku menghabiskan sedikit lebih lama dari selamanya..."
mkh-
(wed/17 /feb'16/17:25)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PULANG

Sebuah Imagi

dear no one..