Dia
Berjalan saat dinginnya embun pagi memelukku, hanya untuk memastikan kau datang lebih awal pagi ini..
Tajamnya angin menusuk kulitku, tak kujadikan alasan untuk berhenti terdiam membeku di jalan ini.
Seketika mataku terus mencari sosok yang entah "siapa dirinya" sebenarnya..
tak sanggup menahan hati yang ingin terus mengucap sebuah pemujian terhadap orang yang bahkan..
diriku tak-tahu-menahu apa yang dia pikirkan tentangku.
yang dapat kulakukan hanya memperhatikan gerak-geriknya, kesehariannya, kebiasaannya.
dan menunggu datangnya "kejadian" yang bisa membuatku jingkrak-jingkrak-kan sendiri..
Apa yang terbesit dipikiranmu saat kau temukanku berkali-kali larut jatuh dalam lamunanku?
pernahkah, sejenak kau sita waktumu untuk memikirkanku? meski seperti angin lewat..
di sini(re:hati) masih dirimu, tuan..
padahal jelas sekali hati ini tidak mengenal pasti siapa dirimu.
hati ini hanya mengetahui satu hal. aku tak sengaja mendengarnya membisikkan namamu di ujung doa-doa panjangnya.
Ketahuilah, tuan, ia tak pernah mempunyai niat untuk mengusik hidupmu. Pastinya kau paham bahwa selama ini ia lakukan semua 'kewajiban' itu tanpa sepengetahuanmu.
Tentu kini kau sadar bahwa hampir separuh hidupnya ia habiskan dengan menyembunyikan rindu dalam-dalam darimu. Ia tak ingin hadirnya mengganggumu dan kau akan mengusirnya jauh-jauh.
Ia tak ingin kau memilih membalikkan badan, menghindar, dan memilih untuk membiarkannya melihat punggungmu berjalan semakin jauh, semakin tak terjangkau oleh harap serta angannya.
dan disaat mata ini menyadari adanya tanda kehadiaranmu, jantungku seakan tak tahu cara berdetak dengan tenang dan normal.
Di tengah keping hati yang berserakan, darah yang berceceran dari luka-luka, dan kisah yang tak kunjung selesai ini; aku masih sempat memikirkanmu.
di sini. masih di tempat ini. aku masih setia menatapmu dari jarak puluhan meter.
Ingatkah engkau, tuan?
"kejadian" terakhir yang entah Tuhan berikan secara sengaja atau memang sudah tertulis untuk kehidupanmu dan kehidupanku..
Disaat temanku menyapamu lalu kau membalas sapaan itu, dan setelah itu kau alihkan pandanganmu tepat ke arahku.
Entah, sadar atau tidak. karena yang aku lakukan secara refleks adalah kupalingkan wajahku darimu.
Tak sanggup menahan rasa malu, karena pada saat itu jarak kita hanya tinggal "satu orang yang layaknya sedang merentangkan tangannya"
Sempat, sepersekian detik kudapat melihat matamu. mata kita bertemu.
Lelaki bermata seterang sinar Qamariah..
Dengan tatapan seteduh Syamsiyah senja..
sungguh tenang rasa jikalau diri ini menatap indahnya senyuman di wajahmu.
lagi-lagi hadirmu yang selalu kutunggu ditengah keramaian yang ada.
kemarin, tepat sebelum perpulangan dari Asrama..
entah kali ini tuhan sengaja atau tidak..
tapi kau memulai "kejadian" kembali, tuan.
setelah kita melaksanakan shalat dzuhur.
"kejadian" itu terjadi tepat di depan Mushollah, disaat kulebih memilih untuk tidak memakai sepatuku sampai ke Asrama. dan berjalan dengan kaki-yang-melompat-kesana-kemari karena kepanasan berjalan di lapangan basket.
spontan aku mendengar suara seorang lelaki yang sangat kuhafal desah suaranya..
berteriak kepada seseorang dengan nada menegur. "Kenapa tidak pakai sepatu?"
aku yang berjalan dengan 4 orang temanku, refleks menengok ke arah suara itu.
ternyata kau. kau yang menegurku. berantakan. pikiranku berantakan.
kumelihat kau berteriak dengan nada.. entah itu menegur atau mengejek.
tapi kau berteriak dengan senyuman di bibirmu.
bukan, bukan senyuman..
tapi, tawa lepas.
entah apa yang ada dalam pikiranmu, sehingga menumbuhkan niat untuk berteriak dari tempat wudhu tepat di samping mushollah hingga ke lapangan basket.
setahuku, kau adalah sosok yang menjaga itu.. suara, kecuali untuk melakukan kebaikan hanya untuk-Nya.
kali pertama kumendengar kau dengan berani berteriak untuk seorang perempuan yang dia sendiri tak tahu apa yang sedang dia lakukan dengan kaki dan sepatunya.. Aku.
dan kau tahu, apa yang ada dalam pikiranku saat itu?
malu, aku malu. namun ada rasa senang menyelip dengan rasa malu itu.
Pertama, malu karena aku terlihat seperti seorang gadis yang tidak tahu cara memakai sepatu.
senangnya, aku senang.... karena kau se-begitu-memperhatikanku (atau memang aku terlalu mencolok karena tidak memakai sepatu?)
yang bisa kulakukan hanya melihatmu, dan tersenyum dengan terpaksa sesambil menahan diri yang ingin lompat jingkrak-jingkrak-kan karena terlalu senang.
atau alasan kedua karena kakiku kepanasan.
aku hanya berlalu darimu sambil menahan malu yang tak dapat kubendung lagi.
Andaikan kau tahu, aku selalu menyebut namamu dihadapan Tuhanku.
Berdo'a untuk kebaikanmu, Memohon ridhaa untuk perasaan yang kujaga ini..
percakapanku dengan Tuhan dalam do'aku yang panjang, selalu kuisi dengan menceritakan betapa bersyukurnya diriku bisa bertemu denganmu setiap hari.
Meski hanya dengan jarak puluhan meter memandangimu.
Bersyukur, bahwa kita masih di bawah langit berbintang yang sama kala Malam datang.
Kata-kataku mungkin tak sedalam Syair Al- ajnihah almutakasirah
dan Jika Dewi Aphrodite pun menolak Cinta yang ada di sini(re:hati), tak akan jadi sesuatu yang mengurungkan niatku untuk terus menjaga rasa ini tetap hidup.
kau harus tahu, tuan. Aku masih disini, masih setia memandangimu dari jarak puluhan meter.
Dari gadis penggemarmu nomor satu,
yang ketakutan perjuangannya kau abaikan,
cintanya yang tak kau rasakan..

Komentar
Posting Komentar